PARIGI MOUTONG, Moderatnews.id — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kabupaten Parigi Moutong yang digelar meriah justru menyisakan ironi. Guru pilar utama pendidikan malah terpinggirkan. Bahkan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) setempat disebut tak diundang.
Fakta ini memicu gelombang kekecewaan di kalangan tenaga pendidik. Momentum yang semestinya menjadi ajang kebersamaan justru berubah menjadi simbol eksklusivitas.
Sejumlah guru di wilayah ibu kota kabupaten mengaku telah bersiap mengikuti rangkaian acara. Mereka menyiapkan pakaian khusus sebagai bentuk penghormatan terhadap hari jadi daerah.
:Namun hingga hari pelaksanaan, undangan resmi tak pernah diterima. Kami sudah siap, tapi undangan tidak datang. Ini sangat mengecewakan, “ujar seorang guru.
Sebagian guru yang tetap datang memilih berada di pinggir arena. Mereka hanya mendampingi siswa yang tampil, tanpa berani menempati kursi undangan.
“Kami tidak berani duduk karena tidak ada undangan resmi,” ungkap Ketua PGRI Parigi Moutong, Gazali.
Lebih jauh, Gazali menegaskan bahwa organisasi PGRI sebagai representasi resmi guru di daerah itu sama sekali tidak dilibatkan. Dalam perayaan HUT Parigi Moutong, organisasi kami tidak mendapatkan undangan, tegasnya.
Tak hanya itu, sejumlah pegawai yang kini berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi juga mengaku mengalami hal serupa sejak terjadi pengalihan kewenangan.
Sejak kami pindah ke provinsi, setiap HUT kabupaten tidak pernah diundang lagi, kata salah satu pegawai.
Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya inklusivitas dalam penyelenggaraan agenda daerah.
Perayaan yang seharusnya merangkul semua elemen justru memunculkan kesan eksklusif dan diskriminatif.
Para guru berharap pemerintah daerah melakukan evaluasi serius agar kejadian serupa tidak terulang. Parigi Moutong ini milik semua, bukan milik segelintir orang, tutup seorang guru.
Laporan : Deni
