PARIGI MOUTONG, ModeratNews.id – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menetapkan langkah tanggap darurat untuk mempercepat penanganan banjir yang melanda permukiman warga di Dusun II, Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara.
Penanganan difokuskan pada pendataan rumah terdampak, penyiapan posko terpusat, penyaluran bantuan dan logistik, pembersihan material banjir, serta normalisasi aliran sungai guna mengantisipasi terjadinya banjir susulan.
Berdasarkan pendataan sementara di lapangan, dampak banjir di Dusun II cukup signifikan. Sebanyak 15 kepala keluarga (KK) atau 50 jiwa tercatat mengalami kerusakan berat, sedangkan 58 KK atau 201 jiwa terdampak kerusakan ringan.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui seiring berlangsungnya proses pendataan di lapangan.
Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, mengatakan langkah awal yang dilakukan pemerintah adalah mengaktifkan posko terpusat untuk mendata seluruh kerusakan dan kebutuhan warga terdampak.
Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, termasuk Dinas Perumahan, telah diarahkan untuk melakukan pendataan rumah warga yang membutuhkan penanganan dan bantuan segera.
“Langkah pertama yang kita lakukan adalah menyiapkan posko dan mendata seluruh kerugian masyarakat. Kami juga memprioritaskan warga yang mengungsi di rumah-rumah kerabat agar pendataan tepat sasaran dan bantuan bisa disalurkan sesuai kebutuhan,” ujar Erwin Burase saat meninjau lokasi penanganan, Rabu (26/8/2026).
Menurut Erwin, penetapan status tanggap darurat diperlukan agar dukungan anggaran melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) dapat segera digunakan untuk mendukung operasional penanganan bencana di lapangan.
Pembersihan material banjir menjadi salah satu prioritas. Kayu gelondongan dan material lainnya yang terbawa arus hingga masuk ke permukiman warga akan dibersihkan menggunakan alat berat berukuran kecil yang dijadwalkan mulai diterjunkan pada sore hari.
Selain alat berat, pemerintah juga menyiapkan sekitar 50 sekop dan sejumlah peralatan pembersihan untuk membantu warga membersihkan rumah secara manual. Pembersihan turut melibatkan personel Batalyon 873.
Penanganan tidak hanya berhenti pada pembersihan permukiman. Pemerintah juga memprioritaskan normalisasi sungai untuk mengurangi risiko banjir susulan.
Dinas Pekerjaan Umum (PU) telah melakukan pemantauan menggunakan pesawat nirawak atau drone untuk memetakan kondisi hulu sungai. Hasil pemantauan tersebut menjadi bahan untuk menentukan langkah pengerahan alat berat dan mengembalikan aliran air ke jalur semestinya.
Terkait banyaknya material kayu yang terbawa arus hingga menerjang permukiman, Erwin Burase menduga material tersebut merupakan sisa dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sebelumnya.
“Pasca kebakaran hutan lalu, kami sudah memperhitungkan jika hujan deras turun, sisa-sisa kayu terbakar akan tergerus air dan turun ke bawah. Ini yang membahayakan dan menjebol rumah-rumah warga,” jelasnya.
Pemerintah berharap langkah normalisasi dan pemetaan kondisi sungai dapat mengurangi ancaman banjir susulan, terutama apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.
Untuk memastikan distribusi bantuan berjalan efektif dan tepat sasaran, Pemkab Parigi Moutong memusatkan penerimaan logistik melalui satu pintu di posko utama.
Petugas di lapangan juga mempercepat pendataan kelompok rentan, seperti lanjut usia, ibu hamil, dan balita, agar dapat segera memperoleh penanganan medis serta tempat pengungsian yang memadai.
Sementara itu, arus lalu lintas di sekitar lokasi pascabanjir terpantau kembali normal. Namun, pengendara tetap diimbau berhati-hati karena di depan gudang packing house durian masih terdapat aliran air di badan jalan.
Pemerintah bersama TNI, Polri, BPBD, perangkat desa, relawan dan masyarakat terus melakukan pembersihan serta penanganan dampak banjir di wilayah terdampak.
Deni













