Inspektorat Bela Musala Rp200 Juta, Publik Menunggu Bukti BPK

Foto (Istimewah) Kepala Inspektorat Parigi Moutong, Sakti Lasimpala, memberikan penjelasan terkait polemik pembangunan musala di lingkungan kantornya.

PARIGI MOUTONG, moderatnews.id – Polemik pembangunan musala di lingkungan Kantor Inspektorat Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) kian mengundang tanda tanya publik. Bangunan yang tampak belum rampung itu menelan anggaran Rp200 juta, namun justru telah dibayarkan melalui mekanisme Provisional Hand Over (PHO).

Kepala Inspektorat Parimo, Sakti, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa pembangunan musala sejak awal tidak dirancang selesai dalam satu tahun anggaran, melainkan menggunakan konsep bangunan tumbuh akibat keterbatasan dana.

“Kalau dilihat kasat mata memang belum selesai. Itu yang memicu pertanyaan publik. Tapi secara teknis, perhitungannya sudah sesuai,” kata Sakti di Parigi, Senin (3/2/2026).

Meski kondisi fisik bangunan belum tuntas, Sakti mengakui dirinya menyetujui pembayaran PHO, dengan alasan pekerjaan dinilai telah memenuhi ketentuan teknis. “Saya setujui PHO dibayar karena secara teknis tidak ditemukan kelebihan perhitungan,” ujarnya.

Namun pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredam sorotan publik. Terlebih, bangunan musala masih memperlihatkan struktur kasar, memunculkan persepsi kuat adanya ketidaksebandingan antara fisik dan nilai anggaran.

Menjawab hal itu, Sakti menyatakan bahwa pembuktian akhir berada di tangan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang dijadwalkan melakukan pemeriksaan pada Februari ini. “Nanti BPK yang memastikan apakah perhitungannya sesuai atau melampaui. Anggaran Rp200 juta itu juga sudah termasuk pajak,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihak Inspektorat telah meminta klarifikasi kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), yang menyebut seluruh item pekerjaan telah dihitung berdasarkan rencana teknis.

Sakti tak menampik, kondisi bangunan yang belum rampung menjadi pemantik utama lahirnya kecurigaan publik. “Orang melihat bangunan ini sebagai satu paket utuh, padahal konsepnya bertahap. Di situ letak persepsinya,” katanya.

Ia berharap adanya anggaran lanjutan agar pembangunan musala dapat diselesaikan, sekaligus menutup ruang spekulasi dan polemik yang terus bergulir di tengah masyarakat.

Laporan : Redaksi MN

Total Views: 758