Mahasiswi Unhas Dorong Eliminasi Schistosomiasis di Sulteng, Fokus Putus Rantai Penularan Demam Keong

Mahasiswi Program Studi Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Indah Sari Purna Lumeno, menyampaikan pentingnya transformasi strategi penanganan schistosomiasis dari pengendalian menuju eliminasi penyakit di Sulawesi Tengah. Goyo 9sy.

PALU, ModeratNews.id– Penyakit demam keong atau schistosomiasis masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Sulawesi Tengah meski berbagai upaya pengendalian telah berhasil menekan angka kasus selama beberapa dekade terakhir. Ancaman penularan penyakit tropis terabaikan tersebut dinilai belum sepenuhnya berakhir sehingga diperlukan strategi yang lebih komprehensif untuk mencapai eliminasi.

Mahasiswi Program Studi Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Indah Sari Purna Lumeno (ISPL), menegaskan bahwa Sulawesi Tengah perlu mengubah pendekatan dari sekadar pengendalian kasus menuju upaya memutus rantai penularan secara menyeluruh.

Schistosomiasis merupakan penyakit tropis terabaikan (Neglected Tropical Diseases/NTDs) yang di Indonesia hanya ditemukan secara endemis di Sulawesi Tengah, khususnya di wilayah Lindu, Kabupaten Sigi, serta Napu dan Bada di Kabupaten Poso.

Menurut ISPL, keberhasilan menurunkan prevalensi penyakit hingga di bawah satu persen merupakan capaian penting. Namun, memasuki fase eliminasi justru menghadirkan tantangan yang lebih kompleks karena masih berpotensi ditemukan kasus tersembunyi maupun kantong-kantong penularan (hotspot).

“Ketika kasus sudah rendah, tantangan berikutnya adalah memastikan tidak ada lagi sumber penularan yang tersisa,” ujar ISPL.

Ia menjelaskan bahwa penanganan schistosomiasis tidak dapat hanya berfokus pada manusia. Penyakit tersebut memiliki siklus penularan yang melibatkan manusia, hewan reservoir, keong perantara, serta faktor lingkungan.

Karena itu, ISPL mendorong penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan sektor kesehatan, peternakan, lingkungan, pertanian, akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam satu strategi penanganan.

Selain penguatan kolaborasi lintas sektor, ISPL juga menilai pemanfaatan teknologi deteksi dan pemetaan risiko berbasis data perlu ditingkatkan. Penggunaan Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) dan surveilans yang lebih sensitif dinilai mampu membantu mengidentifikasi wilayah rawan penularan secara lebih akurat.

“Jangan hanya melihat angka rata-rata wilayah. Bisa saja terlihat rendah, tetapi masih ada titik tertentu yang menjadi sumber penularan,” jelasnya.

ISPL menambahkan bahwa masyarakat harus menjadi bagian utama dalam upaya eliminasi penyakit. Program perubahan perilaku perlu disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat di Lindu, Napu, dan Bada yang memiliki interaksi erat dengan lingkungan perairan, pertanian, dan peternakan.Menurutnya, eliminasi demam keong membutuhkan kolaborasi berkelanjutan, inovasi, serta kebijakan yang didasarkan pada bukti ilmiah.

“Sudah saatnya bergerak dari mengendalikan menuju memutus rantai penularan. Dengan strategi yang tepat, Sulawesi Tengah dapat menjadi contoh keberhasilan menghapus penyakit tropis terabaikan,” tutup ISPL.

Laporan : Deni

Total Views: 254
Exit mobile version