PARIGI MOUTONG, ModeratNews.id – Kebudayaan bukan sekadar pertunjukan di atas panggung. Di dalamnya terdapat jejak sejarah, identitas, nilai kehidupan, serta jati diri masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pesan tersebut mengemuka dalam Pentas Budaya Nusantara yang digelar di Gedung Balai Umat Pura Mertasari, Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu (19/9/2026) malam.
Kegiatan yang mengusung tema “Merajut Tradisi, Menghidupkan Warisan, Membangun Generasi Berbudaya” itu menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus
menghidupkan kembali seni dan tradisi Nusantara di tengah perubahan zaman.
Pentas tersebut dibuka oleh Dr. Nyoman Slamet, S.Pd., M.Si., anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah. Turut hadir Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Parigi Moutong, I Made Yastina, serta sekitar 200 peserta dan masyarakat yang mengikuti kegiatan.
Sejumlah kelompok seni turut ambil bagian, di antaranya Sanggar Seni Lingga Swara, Sanggar Seni Kailinesia dari Toboli, serta Sanggar Seni Torayaku dari Pelawa Baru, Parigi. Kehadiran berbagai sanggar tersebut memperlihatkan beragam ekspresi seni yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.
Setiap penampilan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membawa nilai tradisi, sejarah, kearifan lokal, serta pesan kehidupan yang diwariskan para pendahulu. Karena itu, pelestarian budaya dinilai tidak cukup hanya dengan mengenang tradisi masa lalu, tetapi perlu diwujudkan melalui praktik, pembelajaran, pengembangan, dan pewarisan kepada generasi berikutnya.
Di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi, generasi muda menghadapi semakin banyak pengaruh budaya dari berbagai penjuru dunia. Kondisi tersebut membuat pengenalan terhadap akar budaya lokal menjadi bagian penting dalam menjaga identitas.
Pentas Budaya Nusantara menjadi salah satu ruang yang mempertemukan masyarakat dengan seni dan tradisi sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan budaya yang ada di lingkungannya.
Indonesia sendiri memiliki keragaman budaya yang tercermin melalui bahasa, seni, musik, tari, pakaian adat, tradisi, hingga berbagai bentuk kearifan lokal. Keragaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Indonesia dan hidup berdampingan dalam semangat persatuan.
Pesan kenali Budayanya, Cintai Warisannya, Lestarikan untuk Generasi Selanjutnya menjadi salah satu semangat yang diangkat dalam kegiatan tersebut. Pesan itu menempatkan generasi saat ini sebagai bagian penting dalam keberlanjutan budaya. Warisan yang ditinggalkan para pendahulu akan tetap hidup apabila terus dikenal, dihargai, dipelajari, dan dikembangkan tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Antusiasme sekitar 200 orang yang hadir menunjukkan bahwa kegiatan seni dan budaya masih memiliki ruang di tengah kehidupan masyarakat modern.Panggung seni juga dapat menjadi sarana edukasi sekaligus ruang bagi para pelaku seni untuk terus berkarya dan memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat luas.Modernisasi tidak serta-merta harus membuat tradisi ditinggalkan.
Perkembangan zaman dapat berjalan berdampingan dengan kebudayaan selama nilai-nilai yang menjadi bagian dari warisan leluhur tetap dipahami dan dijaga.Pentas Budaya Nusantara di Parigi Moutong akhirnya membawa pesan bahwa budaya bukan hanya sesuatu yang disimpan sebagai kenangan masa lalu. Budaya harus terus hidup, dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan.
Semangat tersebut dirangkum melalui pesan. “Saksikan! Rasakan! Lestarikan! Budaya Kita, Identitas Bangsa.” Pada akhirnya, Pentas Budaya Nusantara menjadi bagian dari upaya menjaga memori, nilai, kearifan lokal, dan identitas budaya agar tetap hadir di tengah generasi masa kini sekaligus menjadi warisan bagi
Deni













