banner 728x250

Sungai Dangkal dan Tanggul Jebol, Warga Sausu Peore Minta Pemerintah Segera Bertindak

Kondisi aliran sungai dan tanggul yang mengalami pendangkalan serta kerusakan di wilayah Dusun I, Desa Sausu Peore, Kecamatan Sausu, Parigi Moutong. Warga meminta pemerintah segera melakukan normalisasi sungai dan memperbaiki tanggul secara permanen. Foto : Deni

PARIGI MOUTONG, ModeratNews.id – Warga Dusun I, Desa Sausu Peore, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, meminta pemerintah daerah segera melakukan normalisasi sungai dan memperbaiki tanggul yang rusak di wilayah mereka. Kondisi sungai yang mengalami pendangkalan serta kerusakan tanggul dinilai meningkatkan risiko banjir, terutama saat musim penghujan.

Kekhawatiran tersebut juga didasari pengalaman banjir yang pernah terjadi di Desa Sausu Peore. Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Parigi Moutong, banjir terjadi pada Selasa, 3 September 2024, setelah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan Sungai Sausu meluap hingga menggenangi permukiman, kebun, dan sawah warga.

BPBD saat itu menyebut normalisasi Sungai Sausu serta penguatan dinding atau tanggul sungai sebagai kebutuhan mendesak.

Banjir kembali terjadi pada Senin, 13 April 2026. Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Parigi Moutong, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan sejumlah wilayah di Kecamatan Sausu terdampak banjir.

Di Desa Sausu Peore, bagian sayap dan oprit jembatan dilaporkan mengalami kerusakan. Dalam laporan tersebut, perbaikan jembatan dan pembuatan bronjong disebut sebagai kebutuhan mendesak untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.


Selain pendangkalan aliran sungai, warga Dusun I juga mengeluhkan kondisi tanggul yang rusak hingga jebol di sejumlah titik, termasuk kawasan yang berdekatan dengan permukiman dan pesisir pantai.

Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin parah ketika debit sungai meningkat akibat hujan deras. Ancaman genangan juga berpotensi meningkat apabila luapan sungai terjadi bersamaan dengan air pasang laut atau banjir rob.

Sebelumnya, pada 16 Februari 2025, kondisi tanggul jebol di kawasan pesisir Desa Sausu Peore juga diberitakan menyebabkan banjir rob masuk ke permukiman warga.

Kepala Dusun I Sausu Peore saat itu menyampaikan bahwa penanganan tanggul masih dilakukan secara manual dan swadaya masyarakat, sementara warga berharap adanya perbaikan permanen dari pemerintah.

Warga menyebut setidaknya terdapat tiga titik yang membutuhkan penanganan segera. Pertama, kawasan pembendung dan aliran sungai. Pendangkalan akibat sedimentasi dinilai mengurangi kapasitas aliran sungai.

Warga meminta dilakukan pengerukan atau normalisasi serta pembangunan bronjong sebagai penguatan tebing dan perlindungan dari gerusan arus. Kedua, akses jalan dan jembatan.

Pondasi atau bagian oprit jembatan di salah satu titik disebut masih mengandalkan timbunan material sebagai penanganan sementara. Warga khawatir material tersebut mudah tergerus ketika diterjang arus deras sehingga dapat mengganggu bahkan memutus akses transportasi masyarakat.

Kekhawatiran terhadap kondisi jembatan tersebut sejalan dengan laporan BPBD pada 13 April 2026, yang mencatat adanya kerusakan pada bagian sayap dan oprit jembatan di Desa Sausu Peore.

Ketiga, tanggul di sekitar permukiman. Tanggul yang rusak dan jebol di dekat rumah warga membutuhkan perbaikan permanen agar luapan air tidak langsung masuk ke kawasan permukiman. Ancaman yang dikhawatirkan warga bukan hanya kerusakan rumah dan infrastruktur. Air banjir maupun rob juga berpotensi mengganggu ketersediaan air bersih masyarakat.

Salah seorang warga Dusun I mengatakan, ketika air laut pasang tinggi dan masuk ke kawasan permukiman, air sumur warga dapat berubah menjadi asin sehingga sulit digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, ujarnya. Jumat (4/9/2026).

“Kalau air pasang dan banjir masuk ke pemukiman, air sumur warga langsung terasa garam dan tercemar. Ini sangat menyulitkan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar warga tersebut.

Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi teknis terkait tidak menunggu hingga musim penghujan tiba untuk melakukan penanganan.

Menurut warga, kondisi debit sungai yang saat ini masih relatif kecil menjadi kesempatan untuk melakukan pengerukan sedimen sekaligus memperbaiki titik-titik tanggul yang rusak.

Mereka juga meminta pemerintah segera menurunkan alat berat untuk mempercepat proses normalisasi sungai serta merealisasikan pembangunan bronjong dan penguatan tanggul permanen.

Deni

Total Views: 1367

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *