banner 728x250

13 Tahun Dibiarkan Rusak! Sidomukti-Petunasugi Jadi Potret Buram Pembangunan Insfratruktur

Kondisi badan jalan penghubung Desa Sidomukti, Kecamatan Bolano, dan Desa Petunasugi, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, yang mengalami kerusakan parah. Jalan dipenuhi batu dan permukaan tidak rata sehingga menyulitkan aktivitas pengguna jalan. Foto: Nursamsu/Deni.

PARIGI MOUTONG, Moderatnews.id – Kondisi infrastruktur jalan penghubung Kecamatan Bolano dan Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, kembali menjadi sorotan. Sejumlah warga Desa Sidomukti, Kecamatan Bolano, serta Desa Petunasugi, Kecamatan Bolano Lambunu, mengeluhkan kerusakan parah ruas jalan Sritabaang–Kotanagaya yang hingga kini belum mendapat penanganan serius dari pemerintah daerah.

Kerusakan jalan tersebut dilaporkan terjadi di sejumlah titik, terutama di wilayah Desa Sidomukti dan Petunasugi. Kondisinya semakin memprihatinkan, dengan badan jalan berlubang, berlumpur, dan mengalami kerusakan berat sehingga menyulitkan aktivitas masyarakat yang setiap hari bergantung pada akses tersebut.

Kerusakan jalan sepanjang kurang lebih delapan kilometer itu disebut warga telah berlangsung bertahun-tahun. Bukannya semakin membaik, kondisi ruas jalan tersebut justru kian memprihatinkan. Masyarakat harus menghadapi buruknya akses transportasi tanpa kepastian kapan pemerintah daerah akan melakukan perbaikan menyeluruh.

Saat musim hujan, badan jalan berubah menyerupai kubangan kerbau. Lubang-lubang yang dipenuhi genangan air menjadi ancaman bagi pengendara, sementara kendaraan harus berjibaku melewati jalan berlumpur dengan risiko terperosok maupun mengalami kecelakaan.

Sementara ketika musim kemarau tiba, debu tebal beterbangan sepanjang jalan. Kondisinya bahkan diibaratkan warga seperti melintasi kawasan Timur Tengah yang kering dan berdebu. Dua musim berbeda, tetapi penderitaan pengguna jalan tetap sama.

Kerusakan parah di Desa Sidomukti dan Petunasugi semakin memperlihatkan betapa buruknya kondisi akses penghubung dua kecamatan tersebut. Jalan yang seharusnya menjadi penunjang aktivitas masyarakat justru berubah menjadi hambatan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.

Kekecewaan masyarakat bahkan sempat memuncak hingga warga melakukan aksi protes dengan menanami badan jalan menggunakan pohon pisang. Aksi tersebut menjadi simbol sindiran sekaligus luapan kekecewaan terhadap Pemkab Parigi Moutong yang dinilai belum memberikan kepastian perbaikan.

Penanaman pohon pisang itu bukan tanpa alasan. Warga menilai kerusakan jalan sudah terlalu lama dibiarkan, sementara harapan terhadap perbaikan yang selama ini dinantikan seolah hanya berakhir pada janji-janji tanpa realisasi. Aksi tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa masyarakat tidak lagi membutuhkan sekadar janji, melainkan tindakan nyata dari pemerintah daerah.

Persoalan ini bukan sekadar menyangkut kenyamanan berkendara. Ruas jalan tersebut merupakan akses penghubung dua kecamatan sekaligus jalur penting bagi mobilitas masyarakat, termasuk untuk kepentingan pelayanan administrasi pemerintahan, pendidikan, hingga kesehatan.

Salah satu akses vital yang bergantung pada jalur tersebut adalah perjalanan masyarakat menuju Puskesmas Lambunu I. Begitu pula aktivitas anak-anak sekolah, pelayanan pemerintah desa, serta mobilitas warga untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.

Ironisnya, berdasarkan keterangan warga, perbaikan terakhir pada ruas jalan tersebut disebut dilakukan sekitar tahun 2013 silam. Artinya, kurang lebih 13 tahun telah berlalu tanpa perbaikan menyeluruh sebagaimana yang diharapkan masyarakat.

Rentang waktu yang panjang itu menyisakan pertanyaan besar tentang perhatian dan prioritas pembangunan Pemkab Parigi Moutong terhadap infrastruktur dasar di wilayah tersebut.

Warga pun mempertanyakan, sampai kapan masyarakat harus bertahan dengan kondisi jalan yang semakin rusak? Apakah akses yang menjadi urat nadi perekonomian dan pelayanan publik ini harus menunggu kerusakan semakin parah sebelum pemerintah turun tangan?

Kekecewaan warga juga mengarah pada pola perhatian pemerintah yang mereka nilai belum menjawab kebutuhan masyarakat. Bahkan, muncul sindiran bahwa jalan baru menjadi perhatian ketika momentum pesta demokrasi tiba, sementara setelahnya masyarakat kembali dihadapkan pada janji-janji yang belum dirasakan realisasinya.

“Jangan hanya saat ada kepentingan politik baru jalan ini diingat. Sekarang kondisinya semakin parah, tetapi seolah-olah tidak ada yang melihat. Kami sebagai pengguna jalan setiap hari yang merasakan langsung,” keluh warga.

Kondisi tersebut semestinya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sebab, jalan bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan infrastruktur dasar yang menentukan kelancaran pelayanan publik, keselamatan pengguna jalan, akses pendidikan, kesehatan, serta pergerakan ekonomi masyarakat.

Pemkab Parigi Moutong perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai status penanganan ruas jalan Sritabaang–Kotanagaya, termasuk apakah perbaikannya telah masuk dalam perencanaan pembangunan daerah dan bagaimana kepastian alokasi anggarannya.

Jangan sampai kerusakan jalan yang telah berlangsung belasan tahun, khususnya di Desa Sidomukti dan Petunasugi, terus menjadi cerita berulang masyarakat tanpa kepastian penyelesaian.
Masyarakat tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan jalan yang layak dilalui, aman digunakan, dan dapat menunjang aktivitas sehari-hari.

Sebab, ketika masyarakat sampai menanam pohon pisang di badan jalan sebagai bentuk protes, itu menjadi gambaran betapa besarnya kekecewaan yang mereka rasakan.

Pemerintah daerah semestinya tidak menunggu protes semakin besar untuk menyadari bahwa jalan tersebut membutuhkan penanganan nyata. Pembangunan tidak cukup hanya diukur dari megahnya proyek di pusat kota, tetapi juga dari hadirnya perhatian pemerintah hingga ke pelosok.

Deni

Total Views: 135

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *