Petaka di Tambang Tagena, Aktivitas Malam Berujung Maut

Polisi memasang garis polis line dilokasi tambang emas tagena, Desa Desa. Salepae. Kecamatan Moutong yang menewaskan seorang penambang tradisional. Sumber foto Polsek Moutong.

PARIGI MOUTONG, Moderatnews.id – Seorang penambang emas tradisional dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun longsoran tanah di lokasi tambang Tagena, Desa Salepae, Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Sabtu (18/4/2026) dini hari.

Korban diketahui bernama Isran alias Isi (50), warga Desa Lobu, Kecamatan Moutong. Ia tertimbun material longsor saat melakukan aktivitas penambangan manual bersama rekannya di area yang dikenal sebagai tambang rakyat.

Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 00.30 Wita. Saat itu, korban bersama dua rekannya, Dedi dan Wandi, tengah menggali tanah untuk dimasukkan ke dalam karung sebagai bagian dari proses pendulangan emas secara tradisional.

Namun secara tiba-tiba, tebing tanah setinggi kurang lebih 10 meter di atas lokasi mereka longsor dan langsung menimbun korban. Dedi sempat ikut tertimbun, namun berhasil menyelamatkan diri setelah hanya bagian kakinya yang terjebak material tanah.

Dedi kemudian meminta bantuan kepada rekan lainnya yang berada di sekitar lokasi, yakni Suparlan, Puput, Ebil, dan Iwan. Proses pencarian dilakukan secara manual selama kurang lebih dua jam.

Kapolsek Moutong, AKP Felix Alfons Saudale, mengungkapkan korban ditemukan sekitar pukul 02.30 Wita dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

“Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia setelah dilakukan penggalian oleh rekan-rekannya,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon. Minggu, (19/4/2026).

Jenazah korban kemudian dievakuasi menggunakan tandu ke rumah duka di Desa Lobu dan tiba sekitar pukul 03.30 Wita. Korban rencananya dimakamkan sebelum salat Zuhur di pemakaman keluarga setempat.

Kapolsek menjelaskan, lokasi kejadian merupakan area bekas aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang telah lama dimanfaatkan warga untuk menambang secara tradisional.

“Seluruh aktivitas dilakukan secara manual tanpa menggunakan alat berat, mulai dari penggalian hingga pendulangan di aliran sungai,” jelasnya.

Dalam kejadian ini, hanya satu korban jiwa, sementara rekan korban lainnya selamat. Pihak kepolisian telah memintai keterangan sejumlah saksi guna memastikan penyebab pasti peristiwa tersebut.

Polisi juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas penambangan, mengingat tingginya risiko longsor di lokasi dengan kondisi tanah yang labil.

Laporan : Deni

Total Views: 233