Jejak Ekskavator Misterius di Hulu Sungai Lambunu, Camat Buka Suara!

Foto (Deni) Camat Bolano Lambunu, Sodik Hamzah, aktivitas alat berat di area hulu Sungai Tirtanagaya yang diduga berkaitan dengan kegiatan pertambangan tanpa izin. Ia meminta aparat terkait mengambil tindakan tegas untuk mencegah kerusakan lingkungan yang semakin meluas.

Parigi Moutong, moderatnews.id — Kerusakan lingkungan di hulu Sungai Lambunu kembali menjadi sorotan. Air yang semakin keruh, hingga dugaan pencemaran logam berat membuat warga dua kecamatan Bolano Lambunu dan Bolano mengangkat suara.

Mereka menuding aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) sebagai penyebab utama kondisi ini. Sejumlah warga yang sebelumnya menyampaikan kekhawatiran serius beberapa waktu lalu.

Sungai Lambunu selama ini menjadi sumber air bagi sebagian masyarakat, untuk kebutuhan ribuan hektare areal persawahan di dua kecamatan.

Keresahan tersebut turut dibenarkan Camat Bolano Lambunu, Sodik Hamzah, saat dihubungi melalui sambungan telepon genggamnya, Jumat malam (21/11/2025). “Ya, benar ada aktivitas PETI di Sungai Tirtanagaya. Informasi itu juga sudah kami terima dari warga,” ujarnya.

Sodik menyebut keberadaan alat berat ekskavator yang beroperasi di sepanjang jalur sungai. “Alat itu masih bekerja sekarang. Kalau aktivitas ini terus berlangsung, kekhawatiran masyarakat terhadap dampaknya semakin besar,” kata dia.

Tak hanya itu, Sodik mengungkapkan laporan mengenai alat berat lain yang diduga disembunyikan di Dusun VI Kuala Bugis, Desa Bukit Makmur. Ia menyebut pernah melihat sekitar tujuh hingga sembilan unit ekskavator di lokasi itu.

“Saya pernah melihat langsung ada sekitar tujuh sampai sembilan unit. Lokasinya memang jauh dari permukiman warga,” ungkapnya.

Sungai Lambunu sendiri mengairi sekitar 8.000 hektare sawah di dua kecamatan. Saat ini petani mulai masuk musim tanam dan pembukaan lahan baru, potensi dampak lingkungan akibat PETI dinilai sangat mengancam.

“Kami berharap ada penindakan tegas. Jika tidak dihentikan, petani yang paling terdampak. Selain kerusakan lingkungan, pencemaran juga bisa terjadi,” pungkas Sodik.

Laporan : (Deni)

Total Views: 1579